SEJARAH GEOLOGI PULAU SIBERUT
Siberut adalah pulau terbesar dan paling utara dari Kepulauan Mentawai, terletak 150 kilometer sebelah barat Sumatera di Samudra Hindia. Sebagian besar pulau ini ditutupi oleh hutan hujan, karena pada sejarah endemiknya karakterisik pulau Siberut telah terpisah lebih dari ½ juta tahun yang lalu oleh air laut dari daratan Asia . Proses pemisahan sejak zaman Es (Pleistocene) ini telah menjadikan Pulau Siberut memiliki keunikan flora, fauna, ekosistem kehidupan yang bertahan serta terlepas dari proses evolusi yang dinamis. Akibat proses isolasi yang lama ini menjadikan timbulnya sifat endemik bagi flora dan fauna. Walaupun hutan di Siberut, termasuk hutan tropis, karena mempunyai curah hujan dan suhu yang cukup tinggi, Namun susunan hutan di pulau ini, memiliki keunikan-keunukan tertentu yang berbeda dengan hutan tropis lainnya.
Secara kurun waktu geologi, pulau siberut lambat laun tergolong relatife lebih muda dengan kondisi tanah yang lunak dan tidak banyak mengandung batuan besar. Oleh karena itu, permukaan pulau banyak menampakkan retakan-retakan, tebing-tebing curam, dan punggung-punggung bukit tajam dengan anak-anak sungai disela-selanya. Anak sungai tersebut menyatu membentuk 28 batang sungai yang bermuara baik dipantai timur maupun barat. Beberapa sungai cukup besar untuk dilayari sampai kehulu. Potensi dan pengembangan sumber air tawar lebih besar dibandingkan dengan pulau-pulau sekitarnya.
Siberut merupakan salah satu pulau pada kawasan mentawai yang paling rentan terkena dampak tsunami maupun Gempa bumi, yang mana pernah terjadi pada tahun 2004 silam. Sebuah laporan menyatakan bahwa pulau ini mengalami kenaikan dua meter karena gempa bumi ditahun tersebut, dari 0 – 500 dpl.
Dari penelitian tiap tahunnya terungkap periode gempa-gempa besar di wilayah itu terjadi terakhir pada tahun 1797 dan 1833. Dari hasil kalkulasinya, gempa pada tahun 2007 di wilayah itu hanya melepaskan tidak lebih dari 1/3 jumlah energi tekanan tektonik yang terakumulasi. Artinya, masih ada sekitar 2/3 energi lagi yang tersimpan.
Jika semua perhitungan dan ramalan itu benar, maka akan terjadi pula kenaikan dan penurunan tanah. Gempa tahun 2007 mengakibatkan tinggi permukaan Pulau Sikakap di Kepulauan Mentawai naik hingga 70 centimeter.
Jika semua perhitungan dan ramalan itu benar, maka akan terjadi pula kenaikan dan penurunan tanah. Gempa tahun 2007 mengakibatkan tinggi permukaan Pulau Sikakap di Kepulauan Mentawai naik hingga 70 centimeter.
Diperkirakan potensi gempa berkekuatan 9 skala Richter diperkirakan akan terjadi dalam rentang 10-20 tahun ke depan. Guncangan gempa ini diperkirakan tidak hanya berasal dari dasar laut, tapi juga dari patahan sumatera.
Gempa yang terdapat pada pulau siberut ini ini diperkirakan akibat gerakan sesar Mentawai yang memotong kepulauan Mentawai dari selatan ke utara sejajar dengan Sesar Semangko.
Namun perlu diperhatikan seandainya gempa ini merupakan gerakan patahan naik tentu saja masih memungkinkan terjadi tsunami. Sampai dituliskan saat ini tidak ada laporan tsunami. Tsunami terjadi ketika ada dislokasi dasar laut sehingga ada sundulan air diatasnya yang menyebabkan tsunami. Perhatikan gambar disebelah ini tentang mekanisme terbentuknya tsunami.
Kepulauan ini memiliki kedalaman hingga 50 Km. Sedangkan kerak bumi memiliki ketebalan rata-rata 30-40 Km. Sehingga ada kemungkinan bahwa zona tumbukan ini sebagai sumber gempa dengan memperkirakan kedalaman gempa ini 32 Km (6.9 SR). Sehingga ada kemungkinan kedalaman atau ketebalan kerak benua di sekitar pulau ini memiliki ketebalan diatas ketebalan rata-rata. Analisa tensor atau analisa gerakan dinding-dinding patahan ini yang akan menjadi sebuah analisa yang penting dalam mengetahui karakteristik kerak bumi.
Searah berjalannya waktu terbentuknya pulau suberut ini dengan mengetahui karakteristik kerak bumi banyak terdapat gempa-gempa dangkal yang biasanya berasosiasi dengan patahan patahan major yang bergeser atau bergerak akibat gerakan plate tektonik. Getaran ini juga sangat mungkin menyebabkan timbulnya longsoran bawah laut. Longsoran ini terjadi karena pada daerah tubrukan. lempeng ini memiliki lereng yang sangat curam yang rawan longsor dan menjadi dasar sejarah awal bagi kepulauan Mentawai dengan kawasan Suberut ikut terkena dampak dari getaran gempa disekitarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar